Primacom.com - 24/06/2022

 

 

 

Meskipun data menunjukkan kasus hepatitis akut misterius lebih banyak menyerang anak-anak berusia 1 bulan hingga 16 tahun, bukan berarti penyakit ini tidak dapat menyerang orang dewasa. Hal inilah yang disampaikan oleh dr. Diana Yuliani Suryanto, Sp.A. saat menjadi narasumber dalam Health Talk berjudul “Stay Alert on Mysterious Acute Hepatitis: How to Prevent” yang diadakan oleh Departemen QHSE Gedung Prima Sejahtera pada Rabu (8/6).

 

 

 

 

 

 

Diikuti oleh seluruh karyawan PT Primacom Interbuana, PT Rintis Sejahtera, PT Digital Solusi Pratama, dan PT Andalan Sukses Lestari secara virtual, acara ini merupakan sarana untuk berdialog dengan dokter guna menjawab kekhawatiran karyawan mengenai penyakit yang baru-baru ini merebak di Indonesia dan dunia.

 

“Penyebabnya memang belum diketahui. Namun, gejala-gejalanya menunjukkan gejala penyakit hepatitis atau peradangan hati,” jelas Dokter Diana. Hingga saat ini, memang belum ada laporan kasus hepatitis akut misterius menyerang orang dewasa. Akan tetapi, masyarakat tidak dapat serta-merta menarik kesimpulan bahwa orang dewasa sudah pasti aman.  Menurutnya, tidak menutup kemungkinan orang dewasa juga dapat tertular jika sedang kelelahan dan daya tahan tubuh melemah.

 

Tidak seperti hepatitis pada umumnya yang disebabkan oleh virus hepatitis A, B, C, D, dan E, saat ini penyebab hepatitis misterius masih berupa hipotesis dari para ahli. Yang paling banyak dilaporkan, kasus hepatitis misterius ini diduga diakibatkan oleh adenovirus atau virus-virus yang dapat menyebabkan infeksi di saluran pernapasan, saluran pencernaan, dan mata. Selain itu, terdapat dugaan bahwa kasus ini merupakan sindrom setelah terpapar COVID-19 serta akibat serangan varian COVID-19 yang baru.

 

Gejala awal hepatitis misterius ditandai dengan mual, muntah, diare berat, dan demam ringan. Sementara itu, gejala yang lebih serius meliputi air urine berwarna coklat seperti teh, feses berwarna putih pucat, mata dan kulit menguning, gangguan pembekuan darah, kejang, hingga penurunan kesadaran.

 

Dokter Diana berpesan agar masyarakat tidak perlu takut dan panik berlebihan. Jika gejala-gejala tersebut muncul, segera temui dokter di pusat layanan kesehatan terdekat dan jangan menunggu hingga mengalami gejala lanjutan.

 

Selain itu, ia menyampaikan ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah penularan penyakit ini. Yang terpenting, masyarakat harus rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, memastikan makanan dalam keadaan matang dan bersih, serta menjaga kebersihan rumah dan lingkungan sekitar. Selain itu, hindari bertukar alat makan dengan orang lain dan kontak fisik dengan orang sakit.

 

Dokter Diana juga mengimbau agar protokol kesehatan selama COVID-19, seperti memakai masker, menjaga jarak fisik, menghindari keramaian, dan mengurangi mobilitas perlu dipertahankan agar dapat mengantisipasi penularan via saluran pernapasan.

 

“Intinya, pastikan kita semua selalu menjaga kebersihan dan memenuhi asupan gizi yang seimbang, terutama bagi anak-anak,” tukasnya.

 

Kepala Departemen QHSE Nur Huda yang juga hadir dalam acara tersebut mengimbau agar karyawan tidak boleh lengah dengan penurunan kasus COVID-19. Apalagi, saat ini masyarakat kembali berhadapan dengan kasus hepatitis akut misterius yang masih belum diketahui dengan pasti penyebabnya. Melalui Health Talk ini, karyawan diharapkan dapat lebih mengetahui gejala-gejala dan penanganan hepatitis akut misterius yang tepat.