Laman TikTok internasional sempat ramai dengan konten “manifesting” pada pertengahan 2020 lalu. Dilansir dari BBC, hingga September 2020 tagar #manifesting di TikTok telah ditonton sebanyak 334 juta kali. Yang menghebohkan, para kreator videonya mengklaim “manifesting” dapat mengubah hidup orang-orang yang mempraktikkannya. Benarkah demikian?

 

Sebenarnya, konten “manifesting” berisi ajakan agar kita berani menyuarakan keinginan dan bertindak seolah-olah keinginan tersebut sudah terwujud.  BBC memberikan contoh yang sangat sederhana. Seandainya seseorang ingin menjadi penyanyi terkenal, seseorang harus membayangkan dirinya adalah penyanyi terkenal atau menulis di buku catatan “Saya adalah penyanyi terkenal” daripada sekadar bergumam “Suatu hari, saya ingin menjadi penyanyi terkenal”.

 

 


 

 

Semudah Itukah?

Sejatinya, praktik ini bersandar pada Hukum Ketertarikan atau Law of Attraction. Secara teoretis, hukum ini mengajukan argumen bahwa pikiran positif atau negatif mampu menciptakan kenyataan yang selaras dengan apa yang dipikirkan. Penjelasan lebih mendetail tentang prosesnya dijelaskan lewat buku The Secret yang ditulis oleh Rhonda Byrne.

 

Menanggapi fenomena ini, psikolog Catherine Sanderson angkat bicara. Penulis buku The Positive Shift ini menjelaskan bahwa manifesting adalah teknik yang dalam psikologi dikenal dengan mindset atau pola pikir.

 

“Apakah pola pikir itu penting? Jelas,” sebutnya dalam wawancara BBC.

 

Catherine merujuk ke penelitian Harvard pada 2007 silam. Beberapa perempuan yang bertugas membersihkan kamar hotel diberi tahu bahwa tugas bersih-bersih kamar sebenarnya merupakan bagian dari olahraga. Empat minggu setelahnya, petugas kebersihan kamar ini menunjukkan BMI (Body Mass Index) dan tekanan darah yang lebih rendah daripada petugas kebersihan yang tidak diberi tahu apa-apa.

 

“Dalam konteks ini, manifesting adalah praktik dari kekuatan persepsi. Suatu hal bisa terwujud karena kita menganggap ia sudah terwujud,” jelas Catherine.

 
Jangan Terlena

Akan tetapi, Catherine mengingatkan bahwa praktik ini perlu diiringi dengan kebijaksanaan. Orang-orang yang tidak bijak bisa saja beranggapan tubuh mereka kebal dan tidak perlu memakai masker di masa pandemi. Bahkan, orang-orang bisa saja berdalih tidak mau menabung karena beranggapan mereka telah mapan.

 

“Berpikiran positif itu bagus secara fisik dan mental. Namun, jangan sampai ngawur dan menjadi delusi,” tukas Catherine.

 

Konkretnya seperti yang diserukan seorang kreator video asal Amerika Serikat. Kreator ini mempromosikan “afirmasi positif” untuk menurunkan berat badan, tetapi dengan catatan perlu diimbangi dengan “kombinasi olahraga dan makanan sehat”.

 
Speak-Up Your #SelfAffirmation

Dampak positif #manifesting tidak jauh berbeda dengan self-affirmation atau peneguhan diri. Keduanya menekankan pada kekuatan pikiran positif untuk menciptakan kenyataan yang positif pula.

 

Untuk mempraktikkan hal tersebut, pada bulan Maret ini Primacom mengadakan kampanye “Speak-Up Your #SelfAffirmation”. Kami mengajak #SahabatPrimacom untuk menggemakan afirmasi positif via media sosial agar dampak positifnya dapat dirasakan lebih banyak orang, baik di dalam pikiran, lingkungan, dan keseharian. 

 

 

 

 

"You are free, you are powerful, you are good, you are love, you have value, you have a purpose. All is well."

— Ester Hicks