Tangerang, 29 Januari 2021 – Dunia industri berkembang pesat. Baru saja berbagai sektor bisnis mengenal dan mencoba beradaptasi dengan kehadiran Industri 4.0, saat ini sudah muncul lagi sebuah istilah baru: Industri 5.0. Sejumlah praktisi memprediksi Industri 5.0 akan mentransformasi dunia industri masa depan. Namun, apa yang membedakan revolusi industri ini dengan revolusi industri terdahulu?

 

 

Sumber Ilustrasi: freepik.com

 

 

Dari Masa ke Masa

Revolusi industri pertama ditandai dengan penemuan mesin uap pada abad ke-18. Sejak saat itu, masyarakat dapat memproduksi barang dalam skala besar dan dengan waktu yang lebih singkat. Akan tetapi, memasuki abad ke-20, efisiensi tenaga uap tergantikan oleh efisiensi tenaga listrik.

 

Tidak berhenti di sana. Penemuan listrik lantas melahirkan teknologi selanjutnya yang lebih mutakhir, yakni komputer. Pemanfaatan komputer di dalam dunia industri membuat sebagian proses produksi terotomatisasi. Transformasi inilah yang menjadi cikal-bakal dimulainya era Industri 3.0.

 

Lebih lanjut, sebagaimana yang terjadi saat ini, komputerisasi dan otomatisasi industri menjadi semakin optimal dengan kemunculan Industri 4.0. Pada era ini, internet, big data, dan machine learning menjadi penggerak utama. Hal ini mengakibatkan digitalisasi secara masif pada aneka sektor usaha.

 

 

Industri 5.0 Tidak Menghilangkan Peran Manusia

Dilansir dari situs Raconteur.net, Pemimpin Eksekutif Centre for Modelling & Simulation Phill Cartwright mengatakan, Industri 5.0 dimulai saat produsen mempersilakan konsumen mengatur dan menyesuaikan sendiri produk keinginan mereka. Dengan kata lain, personalisasi menjadi kata kunci untuk Industri 5.0.

 

Secanggih apa pun sebuah mesin di masa depan, mesin hanya dapat menjalankan perintah yang diprogramkan secara kaku. Kreativitas, adaptabilitas, dan keterampilan problem solving hanya dimiliki manusia, bukan mesin. Itu sebabnya, Industri 5.0 menekankan pentingnya kolaborasi antara manusia dan robot.

 

Oleh karena itu, Industri 5.0 tidak akan menggantikan posisi strategis manusia dalam dunia industri. Bahkan, dilansir dari situs npr.org, CEO Tesla Elon Musk menyebut, “Humans are underrated.” Artinya, kapabilitas manusia tidak boleh dianggap remeh meskipun teknologi berkembang pesat.

 

 

Sebuah Keniscayaan

Darrell Adams dari perusahaan Universal Robot memprediksi, Industri 5.0 akan menggempur dunia pada 2035. Menurutnya, transformasi ini justru akan menciptakan lapangan kerja baru alih-alih mempersempit lapangan kerja. Akan tetapi, tenaga kerja yang diincar bukan lagi mereka yang terbiasa melakukan pekerjaan monoton, melainkan orang-orang yang dapat memberikan nilai tambah pada suatu produk.

 

Secara spesifik, tenaga profesional di masa depan harus menguasai suatu keahlian yang tidak dimiliki mesin, misalnya seperti kreativitas, seni, perpajakan, dan sebagainya. Menurut Darrell, di masa depan pekerjaan monoton dan berulang akan dikerjakan robot, sedangkan manusia yang akan menjadi perancang kreatifnya.

 

Menurut Mark Berlegue, Vice President Global Operations di Rogers, “Industri 5.0 menyadari bahwa manusia dan mesin harus saling terhubung agar dapat mengatasi kompleksitas produksi masa depan, terlebih dengan meningkatnya customization.”

 

#SahabatPrimacom sudah siap menyambut kehadiran Industri 5.0?