Primacom.com – 17/07/2020

 

Perkembangan teknologi membuat manusia semakin termotivasi untuk mengolaborasikan teknologi baru yang dapat mempermudah aktivitas kita sehari-hari. Salah satu teknologi baru yang diciptakan oleh manusia adalah Cobot, Collaborative Robot atau Robot Kolaboratif. Cobot telah menjadi pusat perhatian dalam suatu modernisasi industri dan pabrik, Indonesia pun mulai tertarik pada sistem otomatisasi ini. Namun, saat robot dan teknologi otomatisasi meningkat mulai muncul infomasi simpang siur yang mengatakan bahwa posisi manusia akan digantikan oleh robot.

 

 

Source : scholarlyoa.com

 

 

Darrel Adams, Head of Southest Asia and Oceania, Universal Robots memberikan penjelasan terkait informasi yang beredar sebagai berikut:

 
1. Cobot Menggusur Pekerjaan Manusia?

Menurut OECD (Organization for Economic Co-operation and Development) hanya 14% pekerjaan yang dapat sepenuhnya menerapkan sistem otomatisasi. Hal ini dikarenakan Cobot tidak dapat menggantikan kreativitas, ketangkasan, pengambilan keputusan, dan pemikiran kritis manusia.

 
2. Otomatisasi Robot ditujukan untuk Operasi Skala Besar yang Kompleks

Kata robot seakan menggambarkan mesin besar yang bekerja untuk mengolah hal yang berat. Namun berbeda dengan Cobot, terlepas dari skala outputnya, Cobot dapat digunakan untuk hal paling sederhana seperti pengemasan, pemasangan sekrup, perekatan, pembuangan, dan lain sebagainya.

 
3. Susah untuk Merawat dan Menjaga Mesin Robot

Sebagian robot memang berukuran besar dan sulit untuk dioperasikan, bahkan ada yang mengatakan bahwa butuh seseorang dengan gelar PhD (sarjana S3) untuk mengoperasikannya. Tetapi berbeda dengan Cobot yang pada kenyataannya hanya membutuhkan biaya perawatan yang minim dan mudah digunakan dan dapat diprogram berulang kali.

 
4. Cobot Berbahaya Bagi Manusia

Robot buatan industri tradisional yang dikenal dengan robot tradisional memang dapat menangani material yang lebih besar dan berat, akan tetapi tidak dapat bekerja berdampingan dengan manusia tanpa masalah keamanan yang serius. Hal ini dikarenakan mereka membutuhkan ruang pengamanan sendiri untuk beroperasi agar manusia terhindar dari resiko pekerjaan.

Berbeda dengan Cobot yang dirancang untuk bekerja berdampingan dengan manusia dengan tingkat eror yang sangat kecil dan dapat mempertimbangkan keselamatan manusia, seperti menggantikan posisi manusia mengerjakan hal yang berbahaya bagi tubuh seperti menyolder yang dapat mengeluarkan asap dan partikel debu yang berbahaya.

 
5. Cobot Itu Mahal

Kategori harga ini tidak berlaku untuk semua robot, untuk pemasangan awal Cobot tidak semahal robot tradisional. Cobot hemat biaya dan ekonomis, hanya memerlukan investasi kecil dan tidak memerlukan penyesuaian infrastuktur yang besar. Cobot dapat digunakan kembali untuk berbagai fungsi di jalur produksi lainnya yang bisa digunakan setiap saat.

 

So, Partners tidak perlu khawatir akan kehadiran robot kolaboratif atau Cobot, ya karena pada dasarnya keberadaan manusia tidak dapat digantikan oleh Cobot. Stay tune terus ya untuk update terbaru dari Primacom News! Pastikan jaringan dan koneksi internet selalu prima!

 

Sumber:

Artikel ini telah tayang di Tribun.com dengan judul "5 Mitos Yang Salah Tentang Robot Kolaboratif”
https://www.tribunnews.com/techno/2020/07/06/5-mitos-yang-salah-tentang-robot-kolaboratif?page=all